Pulau Bangka merupakan salah satu pulau yang menjadi produsen timah terbesar di dunia. Prestasi yang sangat besar, bukan? Namun, tak banyak dari kita yang tahu akan fakta ini ataupun dampak dari kejayaan ini. Sebagian besar masyarakat indonesia bahkan mengenal Pulau Bangka hanya sebatas latar tempat dari film Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata sebagai Provinsi Bangka Belitung. Yah, bahkan mereka tidak tahu bahwa Pulau Bangka dan Belitung merupakan dua pulau yang berbeda.
Lalu, bagaimana dengan Anda? Sebagai apa anda mengenal Pulau Bangka?
Menuju Kehancuran
Dari film Laskar Pelangi, kita memiliki ilusi bahwa Pulau Bangka maupun Belitung merupakan Pulau yang indah dengan kekayaan pantainya yang asri serta alamnya yang masih terjaga. Namun itu dulu, sebelum kini Pulau Bangka lebih dikenal sebagai “Pulau 271T”. Sebuah julukan yang muncul setelah terungkapnya kasus mega korupsi yang melibatkan oknum tertentu dalam eksploitasi timah dan mengakibatkan kerugian bagi negara serta lingkungan sebesar 271T. Sejak kasus ini terkuak, hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia mengenal pulau Bangka dengan kandungan timahnya yang kaya serta banyaknya tambang ilegal.
Sangat menyedihkan memang. Walaupun tak bisa ditampik bahwa keberadaan timah telah memberikan dampak yang sangat positif terhadap perekonomian penduduk lokal maupun nasional. Namun, eksploitasi timah yang telah berlangsung sejak zaman kolonial atau masa kesultanan Palembang tepatnya sejak abad ke-18 ini juga banyak menimbulkan kerugian bagi lingkungan kita di Pulau Bangka.
Kerugian lingkungan ini sangat besar karena kurangnya tanggung jawab dari oknum terkait. Memangnya sebesar apa kerugiannya?
Luka yang Menganga di Pulau Bangka
Teruntuk Anda sekalian yang bertanya, Pernahkan anda melihat Pulau Bangka dari atas pesawat? Jika belum, cobalah. Maka Anda akan menyadari betapa “terbukanya” pulau ini akibat ribuan kolong atau wilayah bekas galian tambang timah yang dibiarkan begitu saja. Bahkan, menurut data Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Baturusa-Cerucuk, pada tahun 2018, tercatat bahwa luasan wilayah bekas tambang tersebut telah mencapai 15.579,747 hektar dengan 12.607 kolong di seluruh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Deforestasi besar-besaran ini, menyebabkan bentang alam yang berubah secara signifikan ke arah kiri dan disebut sebagai ‘Degradasi Lahan’ yang parah. Akibatnya kita mengalami kehilangan lapisan tanah subur dan hutan yang sebelumnya menjadi habitat berbagai flora dan fauna kini.
Degradasi lahan yang dibiarkan secara terus menerus akan mengakibatkan berbagai spesies endemik kehilangan habitatnya secara permanen. Berkurangnya hutan juga mengganggu ekosistem yang berfungsi sebagai penyeimbang lingkungan, seperti resapan air dan penyerapan karbon.
Sudahkah Tepat upaya Rehabilitasi Saat Ini?
Menindaklanjuti kerusakan ini, PT Timah telah melakukan upaya rehabilitasi lahan terhadap lahan tambang legal dengan melakukan revegetasi, menimbun kembali lahan dengan overburden dan menanaminya dengan tanaman produktif, seperti kelapa sawit. Namun, apakah pemilihan komoditas ini sudah tepat?
Kelapa sawit memang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan bisa bertahan di lahan bekas tambang. Namun, kelapa sawit bukanlah tanaman yang ramah lingkungan. Sebagai tanaman monokultur yang rakus pupuk dan air, kelapa sawit justru bisa memperparah degradasi lahan yang terjadi.
Selain itu, bagaimana dengantambang ilegal hasil oknum tak bertanggung jawab? Apakah akan dibiarkan saja?
Jika kondisinya begini, apakah Pulau Bangka masih bisa memiliki kesan indah nya? Bukankah kita perlu bergerak?
Tentunya untuk memperbaiki Lahan di Pulau Bangka sehingga menjadi Pulau yang di suka dengan strategi rehabilitasi yang lebih berkelanjutan.
Bergeraklah dengan melakukan rehabilitasi lahan, menggalakkan program penghijauan serta restorasi lahan bekas tambang dengan menanam kembali vegetasi asli dan membangun sistem agroforestri.
Melakukan banyak riset untuk menemukan tanaman yang dapat bertahan di lahan bekas tambang juga dapat menjadi pilihan bagi kita para kaum muda. Meneliti suksesi tanaman yang bisa menjadikan Bangka kembali hijau dengan menerapkan banyak keilmuan juga merupakan upaya yang besar. Keberjalanan gerakan ini tentunya akan mengembalikan Pulau Bangka pada citranya yang indah dan tidak lagi menjadi Pulau Bangka yang terbuka. Olehnya, mari kita ajak banyak pihak agar upaya dan gerakan kita dapat dimulai dan berkelanjutan. Dengan upaya ini, mari kembalikan Bangka menjadi pulau yang hijau dan Indah. Karena Bangka tak seharusnya menjadi, “Pulau yang Terbuka”.
Tags :
Share This :